Melepaskan Hak
Ingat, kalau kita milik Tuhan, maka Ia berhak mengatur kita sesuka-sukaNya.
Tuhan Yesus adalah teladan yang perlu kita ikuti, dan salah satu yang diteladankanNya ialah kesediaanNya untuk merendahkan diri dan mengosongkan diri (Flp. 2:5-8). Ia yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri. Berarti Ia telah melepaskan segala hakNya, termasuk hak sebagai Allah.
Sendiri
Kita harus berurusan sendiri dengan Tuhan untuk membangun hubungan ekslusif yang berkualitas denganNya.
Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus melepaskan diri kita dari segala milik kita apabila kita mau menjadi muridNya (Luk. 14:33). Dalam teks aslinya, "melepaskan" ditulis apotasomai, yang juga berarti "merelakan perg" atau "mengucapkan selamat tinggal". Merelakan ditinggalkan oleh semua yang ada pada kita akan berdampak kita lebih mengasihi Tuhan dan membangun hubungan yang ekslusif.
Saat yang Menentukan
Jikalau kita mau menerima mahkota kebenaran abadi, kita harus mau berjuang dalam perjuangan iman yang benar.
Kesempatan demi kesempatan diberikan Tuhan untuk meraih berkat rohaninya. Kesempatan itu bukan hanya berupa hal-hal yang menyenangkan kita, sebab supaya kita menjadi pribadi seperti yang dikehendaki Bapa, Ia menggunakan hal-hal yang menyenangkan dan menyakitkan guna membentuk kita. Itu baik bagi kita berdasarkan pandanganNya.
Synergeo
Proses pembentukan karakter kita membutuhkan kerjasama Tuhan dan kita dalam segala keadaan dan kejadian yang kita alami.
Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus menyangkut proses yang berlangsung dalam diri kita. Tetapi sebelum kita membahas proses tersebut, sebelumnya kita harus mengetahui dan mempercayai prinsip yang terpenting, bahwa keselamatan hanya ada di dalam Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jalan lain di luar karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Tidak ada peluang untuk mempercayai ada keselamatan di luar Kristus.
Berhentilah Egois!
Ciri-ciri egoisme adalah menjadikan semuanya untuk kepentingan diri sendiri.
Pengertian yang berbeda dimiliki oleh orang dunia dan orang percaya. Bagi orang dunia, mengasihi diri sendiri berarti mengupayakan kesenangan atau kebahagiaannya sendiri; sering ini diburunya tanpa memperdulikan kepentingan sesamanya manusia. Namun bagi orang percaya, mengasihi diri sendiri bukanlah suatu sikap egoisme.



